Langkah Nyata Cegah Demensia Dini, UI dan ALZI Gerakkan 50 Pra-Lansia di Depok


DEPOK — Upaya mencegah penurunan kemampuan kognitif dan demensia sejak usia pra-lansia terus dilakukan melalui pendekatan yang lebih kreatif dan menyenangkan.

Menyongsong peringatan Bulan Alzheimer Sedunia pada September, Universitas Indonesia (UI) bersama Alzheimer’s Indonesia (ALZI) menghadirkan program GEMILANG (Cegah Demensia pada Lansia dengan Gizi Seimbang) di Kota Depok.

Program tersebut merupakan kolaborasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial bersama Program Studi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Alzheimer’s Indonesia (ALZI), melalui sumber pendanaan hibah pengabdian masyarakat skema kompetitif nomor PKS-051/UN2.PPM/HKP.05.01/2026.

Melalui program ini, sebanyak 50 warga pra-lansia yang tergabung dalam ALZI Korwil Depok di Kecamatan Beji diajak untuk mulai memperhatikan kesehatan otak dan daya ingat melalui pola makan bergizi seimbang serta berbagai aktivitas stimulasi.

Pendekatan yang diterapkan dalam GEMILANG terbilang unik. Edukasi kesehatan tidak dikemas dalam bentuk penyuluhan satu arah yang kaku, tetapi melalui rangkaian kegiatan interaktif yang dirancang untuk menstimulasi kemampuan motorik, sensorik, dan kognitif secara komprehensif.

Skrining Gizi, Bermain Sambil Mengasah Ingatan

Tahap awal program dilakukan dengan memastikan kondisi fisik dan status gizi para peserta. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan, tetapi juga melalui percakapan untuk mendeteksi kemungkinan risiko kekurangan gizi menggunakan panduan Malnutrition Screening Tools (MST).

Skrining tersebut menjadi bagian penting karena upaya mencegah penurunan fungsi kognitif tidak hanya berkaitan dengan aktivitas otak, tetapi juga erat dengan asupan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Selain menjadi bagian dari intervensi program, pengenalan MST juga diharapkan dapat dikawal melalui komunikasi lanjutan bersama para pemangku kepentingan sebagai salah satu alat skrining bagi kelompok pra-lansia di tingkat komunitas.

Setelah kondisi peserta dipetakan, edukasi mengenai gizi kemudian dikemas dalam bentuk stimulasi kognitif dengan menerapkan prinsip-prinsip gamifikasi dalam promosi kesehatan masyarakat.

Para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan mengikuti tiga jenis permainan edukatif yang dirancang untuk meningkatkan partisipasi sekaligus membangkitkan antusiasme.

Pertama, Kartu Memori, yang dirancang untuk merangsang daya ingat visual dengan cara mencari dan memasangkan kartu jenis zat gizi makro dengan sumber makanannya.

Kedua, Kartu Misteri, yang bertujuan memperdalam literasi mengenai mikronutrien penting bagi tubuh. Peserta ditantang memecahkan teka-teki berkaitan dengan gizi dengan mengandalkan daya ingat dan kecepatan berpikir.

Ketiga, sesi Fakta atau Mitos, yang menjadi ruang diskusi untuk membongkar berbagai miskonsepsi mengenai pola hidup sehat yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Dengan cara tersebut, materi mengenai gizi tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi sekaligus menjadi aktivitas yang mengajak peserta berpikir, mengingat, berdiskusi, dan berinteraksi.

"Dapur Sehat Ingatan", Nostalgia yang Menyehatkan Otak

Salah satu bagian yang paling menarik dalam program GEMILANG adalah Dapur Sehat Ingatan. Dalam kegiatan ini, ilmu gizi dipadukan dengan aktivitas sensorik melalui pengenalan aroma berbagai rempah dan bumbu dapur Nusantara.

Dengan mata tertutup, peserta diminta mengidentifikasi nama rempah dan bumbu hanya berdasarkan aroma yang mereka cium.

Aroma jahe, serai, hingga cengkeh bukan hanya berkaitan dengan aktivitas memasak. Indra penciuman memiliki keterkaitan erat dengan pusat memori dan emosi di otak.

Menariknya, aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi ruang nostalgia. Aroma rempah yang dikenali peserta seolah menjadi pemantik munculnya berbagai kenangan masa lalu.

Para peserta pun mulai berbagi cerita mengenai pengalaman mereka memasak dan meracik makanan untuk keluarga di masa lalu maupun aktivitas memasak sehari-hari yang masih dilakukan hingga kini.

Suasana menjadi lebih cair dengan obrolan dan tawa antarpeserta. Melalui interaksi tersebut, kegiatan tidak hanya menjadi sarana untuk mengasah kembali ingatan, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk merawat aspek emosional dan sosial melalui kebersamaan.

Berlanjut dengan Stimulasi Fisik dan Kebun Memori

Program GEMILANG tidak berhenti pada satu rangkaian kegiatan. Upaya merawat ingatan diposisikan sebagai proses berkelanjutan.

Pada Oktober mendatang, intervensi akan diperluas melalui kegiatan stimulasi fisik. Peserta akan diajak melatih motorik halus melalui kegiatan Kebun Memori serta mengikuti Senam Otak.

Senam tersebut memadukan berbagai gerakan tangan, kaki, dan tubuh untuk melatih koordinasi. Aktivitas ini tidak sekadar ditujukan untuk membuat tubuh aktif, tetapi juga menjadi bagian dari stimulasi konsentrasi, kemampuan kognitif, dan koordinasi tubuh.

Rangkaian program kemudian akan mencapai puncaknya pada November melalui penganugerahan Gemilang Award sebagai bentuk apresiasi bagi peserta terbaik.

Lebih jauh, program ini juga diarahkan untuk membangun keberlanjutan melalui pembentukan kelompok Training of Trainer (ToT).

Melalui pelatihan tersebut, peserta terpilih akan dibekali kemampuan untuk menjadi fasilitator. Dengan demikian, edukasi mengenai gizi dan stimulasi memori tidak berhenti pada peserta program, tetapi dapat diteruskan kepada masyarakat yang lebih luas.

Diharapkan Bisa Diadopsi Kelurahan

Model edukasi gizi dan memori yang dikembangkan UI melalui GEMILANG dirancang sebagai sebuah bibit program yang diharapkan dapat diadopsi secara resmi oleh pihak kelurahan.

Jika nantinya dapat menjadi agenda rutin di tingkat kelurahan, manfaat program diharapkan mampu menjangkau lebih banyak warga, khususnya kelompok pra-lansia.

Kolaborasi UI dan ALZI melalui GEMILANG menunjukkan bahwa kepakaran akademis yang dipadukan dengan pendekatan komunitas, kearifan lokal, serta edukasi gizi dapat melahirkan metode pencegahan penurunan kemampuan kognitif yang lebih dekat dengan masyarakat.

Pesan yang dibawa pun sederhana namun penting: mencegah demensia dapat dimulai sejak dini, bahkan dari apa yang tersaji di meja makan, aktivitas sehari-hari, serta kehangatan interaksi di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, pikun tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dimaklumi seiring bertambahnya usia, tetapi menjadi kondisi yang perlu diantisipasi dan dicegah sedini mungkin melalui gaya hidup sehat, gizi seimbang, aktivitas fisik, stimulasi kognitif, serta hubungan sosial yang positif.

Posting Komentar untuk "Langkah Nyata Cegah Demensia Dini, UI dan ALZI Gerakkan 50 Pra-Lansia di Depok"